URINOIR AUTOMATIS; TOILET JONGKOK; DAN CERITA GURU NGAJI

Citizen Journalism Medan | Di sore yang hampir petang sesaat lagi malam pun membentang, tepat setelah maghrib menjelang kemudian tokoh utama dari cerita ini pun menghilang. Tunggu sebentar, kalau menghilang berarti ceritanya sudah kelar, sangat tidak menyenangkan. Baiklah izinkan aku mengubah sedikit jalan ceritanya, agar menarik ketika dibaca.

Citizen Journalism di Medan, Blogger Medan
Foto Ini Diabadikan Di Depan Cermin Toilet Umum Mall Ternama, Gak Ada Maksud Tertentu
Agar Ada Cover Blog Aja Kok

Sebut saja nama samaran tokoh utama adalah Pria Sunyi, selepas aktifitas penuh waktu hariannya di sebuah perusahaan kopi, dia memutuskan untuk bolos kerja demi menonton sebuah film yang ditayangkan secara indie, di salah satu Mall ternama di Medan sekarang ini. Sekilas tentang film yang dia tonton itu hari, berjudul "Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi", merupakan sebuah film yang diadaptasi dari novel karya Asma Nadia. Berawal dari kebingungannya yang membathin, mengapa film yang punya banyak review baik ini, tapi di banyak bioskop nusantara film ini sudah turun layar. Setelah menonton, akhirnya dia menyimpulkan bahwa, film ini banyak mengajarkan pada penontonnya sebuah esensi dari cinta, dinamika bahagia berkeluarga dan juga permasalahan pelik lainnya ketika berumah tangga yang tidak bisa dijelaskan oleh logika, namun dikemas renyah penuh pesan serta menciptakan kesan.

Sama halnya ruang bioskop konvensional secara umum, suasana bioskop yang begitu dingin dan sempitnya jarak duduk kursi penonton, apalah daya Pria Sunyi terlahir menjadi manusia berkaki panjang, pasti akan menghalangi penonton lain yang ingin melintasi tempat duduknya. Cukuplah pembukaan untuk menggambarkan situasi ruang bioskop yang dingin, menyebabkan dia sesak pipis setelah menonton film keren ini. Belum usai dibayang-bayangi dengan perasaan sesak ingin pipis, Pria Sunyi dihadapkan dengan dilema waktu sholat maghrib yang begitu menipis. Pria Sunyi memutuskan untuk sholat maghrib terlebih dahulu karena mengkhawatirkan suatu hal, dan berusaha untuk bersahabat dengan perasaannya.

"Nanti dulu yaa, kita maghrib dulu," ujar Pria Sunyi dalam bathinnya, walaupun terkesan dialog dalam hati itu hanya dilebih-lebihkan oleh si penulis.

Syukur alhamdulillah, perasaannya masih bisa diajak diskusi, ketika menunaikan sholat maghrib kemudian perasaannya pun kembali memberontak seperti ingin dimengerti. Langsung saja, setelahnya dipakai sepatu miliknya yang dibeli di sukarame, disandingkan tas ransel bawaannya ke bahu, dan mulai mencari keberadaan dari toilet umum di Mall ini. Setelah mendapati keberadaan toilet umum, yang dikhawatirkan Prias Sunyi pun nyata adanya, toilet mall ini terlalu futuristik untuk standar orang dari masa lalu seperti Pria Sunyi.

Citizen Journalism di Medan, Blogger Medan
Perkenalkan Sebelah Kiri Namanya Urinoir Otomatis dan Sebelah Kanan Namanya Toilet Duduk
Bersih Yaa Toilet Umum Ini, Tapi Buat Apa Juga Bersih Kalo Aku Gak Ngerti Gunainnya :(
Urinoir Automatis

Pipis standing saja, Pria Sunyi sudah sangat memberatkan hatinya, kekhawatiran apakah celananya masih tetap dalam keadaan bersih. Menurutnya celana yang dipakai ketika pipis standing akan terkena cipratan dari percikan pipis dan otomatis mengkhawatirkan untuk berusaha sempurna dalam sholat jika memakai celana tersebut. Belum lagi, penelitian menyebutkan pipis standing ternyata tidak mengeluarkan air seni secara menyeluruh, akan ada suatu ketika tanpa sadar terkeluar ketika sedang beraktifitas, nah bagaimana ketika terkeluar ketika sholat.

Itu tadi tentang pipis standing menurut hematnya, dan Pria Sunyi dihadapkan lagi dengan Urinoir Automatis yang sangat dia tidak pahami, sebab sepanjang dia menempuh pendidikannya hingga S1 tidak dijumpainya mata kuliah yang membahas bagaimana menggunakan Urinoir Automatis. Setelah pipis, Pria Sunyi pun bingung bagaimana untuk cebok dan mengaktifkan sistem otomatis dari Urinoir untuk mengeluarkan air. Terpujilah secara sinis mereka yang menemukan Urinoir ini, bukan memudahkan malah menyusahkan, dan tidak ramah untuk orang dari masa lalu seperti Pria Sunyi.

Toilet Jongkok

Bukan hanya Urinoir Automatis yang membingungkannya, Pria Sunyi tidak menemukan toilet jongkok di toilet umum Mall ini, 3 bilik toilet hanya ada toilet duduk yang sangat dibencinya. Belum usai sampai disitu, toilet duduk ini sangat membingungkannya, karena menggunakan fitur selang air yang keluar dari bawah untuk menyemprot dubur. Menggunakan toilet duduk saja dia tidak mengerti, konon lagi ada fitur cebok otomatis, menurutnya masa depan yang penuh futuristik begitu menyeramkan.

Sudah banyak penelitian yang menyebutkan menggunakan toilet jongkok sangat baik untuk kesehatan, tapi tetap saja toilet duduk masih laku di pasaran, Pria Sunyi pun mendadak berasumsi, bahwa hal ini ada konspirasi untuk menjaga produk toilet duduk tetap ada permintaan. Seharusnya, pengelola Mall ternama ini, juga menghargai orang-orang seperti Pria Sunyi dengan menyediakan toilet jongkok, walaupun hanya satu saja, Pria Sunyi akan lebih memilih ngantri di toilet jongkok daripada menggunakan toilet duduk.

Cerita Horor Guru Ngaji

Singkat saja, biar tidak membosankan, dulu sekali ketika Pria Sunyi lagi imut-imutnya, dia pernah mengaji di madrasah daerah helvetia di Medan. Ketika itu dia berumur 7 tahun, dan sering sekali percaya dengan ucapan guru ngajinya, sehingga sulit membedakan mana yang benar dan mana yang hanya sekadar canda. Tapi cerita horor ini sepertinya tidak candaan, dan benar adanya. Di awali dengan kenyataan, bahwa manusia tidak hidup di dunia ini sendiri, ada makhluk lain hewan dan tumbuhan, tapi bukan itu yang disampaikan oleh guru ngaji ketika itu, tapi perkara jin dan syetan.

Kata guru ngajinya jin itu hidup berdampingan di bumi ini, namun berbeda alam dengan manusia, dan sangat menarik lagi, tulang-belulang serta kotoran merupakan bekal makanan dari kaum jin. Dan air pipis merupakan minuman bagi kaum jin, yang lebih mengejutkan lagi, orang yang pipis standing, air pipis yang memancur menjadi kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak jin kafir. Waktu itu, mengetahui fakta bahwa jin dan syetan hidup berdampingan saja di bumi ini sudah membuat merinding ditambah lagi menjadi bahan permainan untuk anak-anak jin berbahagia. Cerita ngeri itu berhasil membuat si kecil Pria Sunyi untuk pipis jongkok selama beberapa hari, dan kemudian balik lagi ke kebiasaan buruk.

- - -

Sebenarnya tulisan ini hanya ilustrasi saja untuk komplain status toilet jongkok yang terlalu dikucilkan keberadaannya di antara toilet-toilet lainnya. Jika ada kesamaan cerita, tokoh utama, dan mungkin tulisannya entah ke mana - mana, mohon dimaafkan, pada Allah aku mohon ampun. Jika sedikit ada manfaatnya maka ambillah, namun jika ternyata banyak yang tak ada manfaatnya abaikan saja. Niatnya tulisan ini hanya 400 kata, karena terkadang panjang-panjang tulisannya rawan bosan, maafkan kalo terlalu panjang.

Komentar

  1. hehe saya setuju nih. Saya juga suka risih kalau ke toilet dengan wc duduk, kangen sama wc jongkok. Sayangnya sekarang seperti dihilangkan, hampir semua mall dan RS mesti deh wc-nya duduk, padahal efek penularan penyakit lebih gampang.

    Dan bukan ustad saja yg bilang begitu mas, alm.ayah saya juga menganjurkan lelaki itu sebaiknya pipisnya jongkok karena sunnah dan lebih baik jongkok karena tdk muncrat-muncrat najisnya bisa kemana-mana

    BalasHapus
  2. kali ini sependapat dengan pria sunyi, bukan masalah lebih praktis dan lebih cepat dalam membuang yang memang kewajibannya di buang dengan segera, dan nyatanya sekarang hampir semua tempat itu ga ada lagi namanya wc jongkok, jangankan wc jongkok, bak untuk menampung air aja tidak ada, kalau saya sih ga suka dengan kemajuan ini, kalaupun terpaksa mesti cari yang dekat mushollah, soalnya yang bersih itu belum tentu suci, sedangkan kita kalau tak suci tak di terima ibadah kita, duhh...

    dan bener, seharusnya ada yang namanya wc jongkok, agar bisa menjaga dari cipratan-cipratan najis, agar lebih aman aja kesuciannya.. gitu sih mas kalau pendapat saya

    BalasHapus
  3. Toilet jongkok hanya dapat dijumpai di pinggir masuk dalam kota bang, alias kampung. Padahal toilet jongkok lebih baik.

    BalasHapus
  4. aku sama seperti pria sunyi. Tidak terima dengan keberadaan urinoir. Kesulitan untuk berhadast. Dimana ada airnya?

    Jika tidak ada toilet jongkok, saya pun memilih toilet duduk untuk di pipisin, bagaimana berhadastnya, cari saja air yang otomatis keluar itu

    BalasHapus
  5. ART, sudah ikut saya sekitar 1 tahun, kalau pengen pipis atau BAB selalu pulang ke rumahnya, karena nggak bisa pakai toilet dudukdi rumah saya.
    Untung jaraknya cuma selang 1 rumah dari rumah saya.

    BalasHapus
  6. Coba mampir ke toilet cewek, lebih banyak toilet jongkoknya XD

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BLOG M; PASAR MALAM; DAN RINDU MASA KECIL

AKU; BLOGGER MEDAN; BERJEMA'AH DI DUNIA DIGITAL